Harta Soekarno bukanlah merupakan
suatu rahasia lagi, banyak dari kita sudah membaca kisah ini di berbagai macam
artikel yang anda bisa cari di Google. Tetapi disini saya hanya mau
menceritakan pengalaman yang dialami pada hari Sabtu, 5 Maret 2016.
Kejadian ini bermula dari keingintahuan
kami dengan hal hal gaib, yang dimana pada saat itu kami bertemu dengan
seseorang yang menjadi penjaga dari pintu dunia dimana Soekarno berada (kedepan
saya akan menyingkat sebagai GK/Gate Keeper). Pada awalnya dia tidak
menyebutkan bahwa dia adalah penjaga daripada gerbang tersebut, karena memang
seharusnya dia tidak boleh membuka diri bahwa dia adalah penjaga gerbang
tersebut. Singkat cerita kami sedang berkumpul dan ingin merasakan energy dari
benda-benda pusaka yang dia miliki, salah satunya adalah cemeti dan keris yang
sudah menjadi legenda di Indonesia.
Ketika kami menanyakan ada benda
apalagi yang memiliki energy paling besar selain keris dan cemeti tersebut, GK
tersebut tiba’ memberikan suatu benda pusaka kepada salah satu dari kami yang
memiliki energy paling besar untuk memegang benda tersebut.
Awalnya benda itu terlihat
sebagai roda, dan teman saya menjawab ini sebuah roda, sekali lagi GK bertanya
coba lihat lebih teliti lagi, dengan bantuan GK tiba-tiba roda tersebut berubah
menjadi sebuah tongkat kayu sepanjang ±40cm, berwarna coklat, bagian atas
tongkat tersebut berbentuk kepala garuda dan bagian bawah tongkat tersebut
memiliki permata hijau.
Pada saat itu juga muncul sesosok
pemuda ±22
tahunan dengan mengenakan kemeja putih, dasi hitam, jas berwarna putih gading,
dan menggunakan peci. Pemuda tersebut dikelilingi bayangan naga berwarna emas
berkilauan, lebih tepat dikatakan dikelilingi aura yang menyerupai naga. Salah
satu dari kami ada yang spontan berteriak itu Soekarno, jadi tongkat kayu ini
adalah tongkat milik Soekarno.
Kemudian alam bawah sadar kami
dibawa ke suatu gunung dan berjalan melewati sebuah desa yang sangat indah dan desa
tersebut kami tahu berada di Indonesia. Soekarno berjalan didepan kami seperti
menuntut kami supaya mengikutinya.
Ketika berjalan melewati sebuah
desa, kami melihat sekelompok manusia yang memiliki wajah datar (seperti zombie
dan tidak memiliki kesadaran), GK menjelaskan bahwa itu merupakan manusia yang
terjebak dan sudah kehilangan jiwanya karena nafsu duniawinya untuk mencari dan
mendapatkan harta karun Soekarno.
Setelah melewati desa tersebut
perjalanan dilanjutkan naik ke gunung yang memiliki air terjun, dan kemudian
kami memasuki goa dibelakang air terjun tersebut. Yang anehnya Goa tersebut
sangat terang padahal tidak ada cahaya matahari yang masuk ataupun listrik
sebagai penerangan. Goa itu sangatlah luas dan memiliki banyak ruangan-ruangan
mengelilinginya, didalam goa tersebut ada seorang kakek tua berpenampilan
seperti seorang Kyai jaman kerajaan Indonesia daulu kala, dengan janggut sampai
sedada, disamping kiri kakek tua yang berdiri itu ada seekor burung Garuda setinggi
pinggul dari kakek tua tersebut, bulunya berwarna coklat ke emasan. Ada sebuah
singgasana terbuat dari batu, disisi kanan singgasana itu terletak tongkat
Soekarno dan berdasarkan penjelasan GK, singgasana tersebut milik kakek tua
yang tinggal disana.
Didalam goa kami diarahkan ke
suatu ruangan dengan pintu terbuat dari batu dan ketika beliau(/Soekarno)
berdiri didepan pintu batu, pintu batu tersebut bergeser kekanan dan kami
memasuki ruangan yang sangat luas sehingga kami sendiri tidak bisa melihat
ujung kiri dan ujung kanan dari ruangan itu. Ternyata ruangan ini merupakan,
ruangan dimana Harta Soekarno tersimpan. Didalam ruangan terlihat tumpukan
batangan emas dan tergeletak berbagai macam batu permata dan peti-peti berisi
harta, tinggi tumpukan emas tersebut kira-kira 3x tinggi badan saya (tinggi
saya ±170cm).
Jadi benar apa yang ada diartikel selama ini, Harta Soekerno itu seluas gunung.
Bentuk batangan emasnya tidak semodern batangan emas buatan antam yang rapi,
tetapi lebih menyerupai batu bata yang kasar disegala sisinya.
Kami dituntun lagi untuk berjalan
masuk kedalam ruangan harta, kami terpukau melihat tumpukan emas yang berkilauan
disisi kanan dan kiri sepanjang kami berjalan. Sesampainya diujung lorong,
Sokarno sempat berjalan serong/menyamping mengambil sebuah sebuah selendang
merah yang digantung disalah satu sisi ruangan, kemudian Soekarno mengambil dan
melipat selendang merah tersebut ditangannya. Ketika Soekarno melihat selendang
itu mimik mukanya terlihat sedih, namun ketika melihat kami, Soekarno tersenyum
kembali.
Diujung ruangan harta tersebut
ada sebuah pintu gerbang yang besar dan terbuat dari emas, dari sela-sela pintu
terpancar cahaya yang sangat terang. Pada saat kami mulai mendekati pintu
tersebut, pikiran kami ditarik kembali ke alam manusia oleh GK. GK tersebut
menjelaskan, bahwa dia diperingatkan oleh si kakek tua (Kyai) jika kami
memasuki ruangan tersebut, setengah jiwa kami tidak akan pernah kembali ke alam
manusia. Fisik kami didunia manusia akan menjadi seperti orang-orang di desa
yang memiliki wajah datar.
Selama kita berjalan dibelakang
Soekarno, apapun yang kami pertanyakan ke beliau tidak ada satupun yang
dijawab. Beliau hanya menoleh melihat kami, mengangguk dan selalu tersenyum sangat
ramah.
Kemudian kami berbincang-bincang
dengan GK tentang pikiran alam bawah sadar yang kami rasakan, kenapa yang kami
lihat Soekarno dengan wujud ±22 tahunan, seharusnya Soekarno sudah
cukup tua yang kami lihat karena Beliau meninggal diumur 69 tahun, lalu apakah itu
riil Soekarno?
GK menjelaskan, bahwa itu
bukanlah Sokerno yang kita kenal sebagai Presiden RI karena orang yang sudah
meninggal sudah tidak memiliki hubungan lagi dengan duniawi, sepenuhnya milik
Tuhan Yang Maha Esa. Lalu siapa yang kami lihat diselama perjalanan tadi? GK
menjawab, “itu perwujudan dari energy dan ilmu yang dimiliki Soekarno semasa
hidupnya, karena ilmu tidak bisa menghilang, maka ilmu Soekarno tertinggal di
dunia ini”. Tapi kenapa wujudnya pemuda ±22 tahunan, “karena itu adalah wujud
Soekarno ketika menerima tanggung jawab sebagai pria dewasa dan wujud pada saat
Soekarno menerima tongkat pusaka yang kita kenal sebagai salah satu Tongkat
Soekarno”.
Kami pun bertanya, bukankah
perihal tongkat Soekarno ini seharusnya rahasia dan sebagai GK tidak boleh
seenaknya mengajak orang untuk masuk ke dunia tersebut. GK menjawab, “ ya saya
memang tidak boleh mengajak orang secara sembarangan untuk masuk atau membuka
gerbang dunia dimana harta Soekarno berada, tetapi pada saat kita membahas
benda pusaka, tongkat soekarno tersebut tiba-tiba muncul dengan sendiri tanpa
diundang oleh saya (GK), seolah olah tongkat Soekarno ini sendiri
memanggil/mengijinkan kalian untuk masuk ke dunia tersebut.”
Pengalaman ini cukup menarik
perhatian saya, tidak tahu kapan lagi bisa mengalaminya. Oleh sebab itu saya
mencoba untuk menuliskan diblog ini, untuk saya ingat dikemudian hari, bahwa
cerita mistis di Indonesia ini tidak akan pernah berakhir.
Gokilllllll... Itu beneran gan? Momentnya dramatis bgt yah..
ReplyDelete